Feb 11, 2026
Pragmatik dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengenalan Pragmatik

Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bagaimana konteks mempengaruhi makna. Dalam kehidupan sehari-hari, pragmatik berperan penting dalam komunikasi antarindividu. Bahasa yang kita gunakan tidak selalu bersifat literal. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi cara kita menafsirkan pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, pemahaman tentang pragmatik membantu kita berkomunikasi dengan lebih efektif.

Peran Konteks dalam Komunikasi

Dalam berkomunikasi, konteks situasi sangat berpengaruh terhadap makna sebuah kalimat. Misalnya, jika seseorang mengatakan “apakah kamu bisa menutup jendela?” di tengah hujan, kalimat tersebut mungkin bukan sekadar permintaan, tetapi juga ungkapan ketidaknyamanan terhadap cuaca. Situasi ini memberi nuansa yang lebih dalam pada permintaan tersebut. Tanpa memahami konteks, lawan bicara mungkin saja menafsirkan pesan secara salah.

Contoh lain yang umum terjadi adalah dalam percakapan sehari-hari di antara teman. Jika satu teman mengatakan “sepertinya cuaca buruk hari ini,” maka respons dari teman yang lain bisa beragam. Jika salah satu dari mereka memiliki rencana untuk bepergian, maka ucapan tersebut bisa dipahami sebagai saran untuk membatalkan rencana. Dalam hal ini, konteks pertemanan dan rencana yang ada sangat mempengaruhi makna kalimat tersebut.

Daya Tarik Bahasa Kasar dalam Pragmatik

Penggunaan bahasa kasar atau bahasa gaul sering kali menjadi bagian dari praktik pragmatik di kalangan anak muda. Misalkan, ketika seseorang berkata “eh, bro, jangan banget gitu,” meskipun terlihat kasar, namun dalam konteks pertemanan, itu bisa jadi bentuk kedekatan dan keakraban. Bahasa kasar ini tidak selalu bernuansa negatif; seringkali, hal tersebut membawa makna positif dan dianggap sebagai bentuk kejujuran dalam hubungan sosial.

Namun, penggunaan bahasa kasar juga perlu diperhatikan dalam konteks yang lebih formal. Misalnya dalam lingkungan kerja, jika seorang karyawan berkata demikian kepada atasannya, maka maknanya bisa menjadi sangat berbeda dan bahkan dianggap ofensif. Dalam hal ini, pragmatik mengingatkan kita untuk selalu memperhatikan konteks dan siapa yang menjadi lawan bicara.

Implicature dalam Perbincangan Sehari-hari

Implicature merupakan suatu konsep dalam pragmatik yang mengacu pada makna atau informasi yang disiratkan namun tidak diungkapkan secara langsung. Dalam interaksi sosial, seringkali kita menggunakan implikatur untuk menyampaikan pesan tanpa harus mengatakannya secara eksplisit. Misalnya, jika seseorang mengucapkan “Saya lapar” ketika berada di dekat restoran, implikatur yang bisa ditangkap adalah ajakan untuk pergi makan.

Tentu saja, implikatur ini bisa sangat beragam tergantung pada hubungan antara individu yang berkomunikasi. Dalam konteks keluarga, ungkapan yang sama bisa jadi hanya sekadar keluhan tentang perut kosong, sedangkan dalam konteks teman, ini bisa menjadi ajakan atau permintaan untuk berbagi makanan. Pemahaman akan implikatur ini memudahkan komunikasi dan memperkaya interaksi sosial.

Perbedaan antara Makna Literal dan Non-Literal

Dalam banyak situasi, kita dihadapkan pada makna literal dan non-literal. Makna literal adalah arti kata-kata yang diucapkan secara langsung, sementara makna non-literal sering melibatkan nuansa, kiasan, atau bahkan sarkasme. Sebagai contoh, jika seseorang mengatakan “kamu benar-benar jenius,” makna literalnya adalah pujian, tetapi dalam konteks tertentu, bisa jadi itu adalah sindiran.

Contoh lain yang sering terjadi dalam percakapan sehari-hari adalah ketika seseorang mengatakan “sudah larut, sepertinya aku harus pergi,” di tengah pertemuan yang menyenangkan. Dalam konteks ini, meskipun yang disampaikan adalah kalimat literal, ada unsur non-literal yang dapat ditangkap, yakni keinginan untuk tetap berada di situasi menyenangkan tersebut, namun harus pergi karena waktu.

Penerapan Pragmatik dalam Media Sosial

Di era digital saat ini, pragmatik juga sangat berperan dalam komunikasi melalui media sosial. Di platform seperti Twitter atau Instagram, karakter terbatas sering memicu penggunaan singkatan, emoji, dan ungkapan gaul untuk menyampaikan pesan secara singkat namun tetap jelas. Misalnya, penggunaan emoji bisa mengubah makna sebuah kalimat dengan cara yang sangat signifikan.

Seseorang yang menulis “hari ini sangat menyebalkan 😢” bisa jadi sedang mengungkapkan kekecewaan yang mendalam, sementara jika ditulis “hari ini sangat menyebalkan 😂” bisa menunjukkan bahwa mereka menyikapi situasi dengan cara yang lebih santai dan humoris. Dalam media sosial, pemahaman akan pragmatik sangat krusial agar pesan yang disampaikan tidak salah dimengerti oleh audiens.

Pentingnya Pragmatik dalam Interaksi Sosial

Pragmatik tidak hanya memengaruhi bagaimana kita berbicara tetapi juga bagaimana kita mendengarkan. Kemampuan untuk menangkap makna yang lebih dalam dari sebuah komunikasi membantu kita dalam membangun hubungan antarindividu. Dalam lingkungan yang beragam, kemampuan ini sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman yang bisa timbul akibat perbedaan budaya atau latar belakang.

Dengan memahami aspek-aspek pragmatik dari komunikasi sehari-hari, kita dapat menjadi komunikator yang lebih baik. Kita belajar untuk lebih peka terhadap nuansa yang ada di dalam percakapan dan membuat interaksi menjadi lebih lancar dan bermakna. Pragmatik mengajarkan kita bahwa komunikasi bukan hanya soal kata-kata yang diucapkan, tetapi juga tentang seberapa baik kita memahami dan merespons konteks di sekitar kita.

More Details