Feb 14, 2026
Pragmatik dalam Komunikasi Sehari-hari
Pengenalan Pragmatik dalam Komunikasi
Pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna dalam konteks penggunaan bahasa. Di dalam kehidupan sehari-hari, pragmatik berperan penting dalam memahami komunikasi verbal dan non-verbal. Melalui pragmatik, kita dapat memahami bagaimana kata-kata yang diucapkan dapat memiliki makna yang berbeda tergantung pada situasi, nada suara, dan bahkan ekspresi wajah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami aspek pragmatik ketika berinteraksi dengan orang lain.
Contoh Penggunaan Pragmatik
Pertimbangkan situasi di mana seorang teman menyapa dengan kalimat sederhana “Kamu sudah makan?” Meskipun pertanyaannya tampaknya langsung, makna yang terkandung dalam pertanyaan tersebut sangat bergantung pada konteks. Jika mereka menanyakannya pada sore hari, bisa jadi mereka hanya ingin memastikan apakah kamu sudah makan untuk menjaga kesehatan. Namun, jika pertanyaan itu diajukan pada malam hari dan saat kamu terlihat lelah, kemungkinan besar mereka tidak hanya ingin tahu tentang makan malammu, tetapi juga mungkin menawarkan untuk memasak atau mengajakmu makan.
Dalam konteks ini, respons yang kamu berikan juga dapat dipengaruhi oleh pragmatik. Jika kamu menjawab, “Belum,” temanmu mungkin akan langsung memahami bahwa kamu butuh makan dan bisa menawari sesuatu. Tetapi jika kamu menjawab, “Sudah,” mereka mungkin menganggap bahwa kamu tidak butuh bantuan dan melanjutkan obrolan ke topik lain.
Pragmatik dan Budaya
Berkaitan dengan budaya, pragmatik juga menjadi faktor penting yang memengaruhi cara kita berkomunikasi. Misalnya, di Indonesia, cara kita menyapa orang yang lebih tua berbeda dengan cara kita berbicara kepada teman sebaya. Saat bertemu dengan orang tua, kita cenderung menggunakan bahasa yang lebih sopan dan formal dibandingkan saat berbicara dengan teman. Pragmatik di sini berfungsi untuk menunjukkan rasa hormat dan menghargai status sosial seseorang.
Contoh lainnya dapat ditemukan dalam tradisi berbicara di sejumlah daerah di Indonesia. Misalnya, ketika seseorang mengucapkan “Permisi,” itu tidak hanya berarti meminta izin untuk masuk, tetapi juga menunjukkan adanya penghormatan. Lewat kata sederhana tersebut, kita juga dapat mendapatkan kejelasan mengenai konteks sosial di mana interaksi tersebut berlangsung.
Implikatur dan Maksud Tersirat
Dalam pragmatik, kita juga mengenal konsep implikatur, yaitu makna yang tersirat dari suatu pernyataan. Dalam banyak situasi sehari-hari, seseorang dapat mengungkapkan pendapat yang lebih dalam tanpa harus mengatakannya secara langsung. Contohnya, jika seseorang mengatakan, “Di luar sangat panas ya,” di belakang ini bisa terdapat maksud agar kita menyalakan pendingin ruangan atau menutup jendela.
Konteks ini memperlihatkan bagaimana bahasa dapat digunakan secara strategis untuk mencapai tujuan komunikasi tanpa mengatakan semuanya dengan jelas. Hal ini seringkali terjadi dalam interaksi di antara pasangan yang sudah terbiasa satu sama lain, di mana mereka bisa saling memahami tanpa perlu menyatakan maksud dengan eksplisit.
Peran Non-Verbal dalam Pragmatik
Komunikasi tidak hanya terbatas pada kata-kata yang diucapkan. Ketika kita berbicara, bahasa tubuh, intonasi suara, dan ekspresi wajah kita dapat memberikan makna tambahan pada apa yang ditransmisikan. Misalnya, jika seseorang berbicara dengan suara yang lembut dan senyum di wajahnya ketika mengatakan sesuatu yang baik, kita bisa merasa lebih yakin tentang makna positif dari pernyataan tersebut.
Di sisi lain, jika seseorang mengatakan “Saya baik-baik saja,” dengan nada suara datar dan tanpa ekspresi, kita cenderung meragukan kejujuran atau ketulusan dari pernyataan tersebut. Aktivitas non-verbal seperti ini berfungsi untuk melengkapi pesan verbal dan seringkali dapat memberikan sinyal yang lebih kuat tentang perasaan seseorang dibandingkan dengan kata-kata yang mereka ucapkan.
Kesalahpahaman dalam Komunikasi Pragmatik
Seringkali, kesalahpahaman terjadi karena orang-orang tidak memahami atau tidak peka terhadap aspek pragmatik dalam komunikasi. Misalnya, jika seseorang memberikan sebuah informasi dengan nada bercanda, namun orang lain menganggapnya serius, bisa terjadi kebingungan. Kasus ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap konteks dan nada perkataan sangat krusial dalam menyampaikan pesan yang tepat. Ketidakpahaman ini dapat menyebabkan konflik atau kesalahpahaman yang tidak perlu dalam interaksi sehari-hari.
More Details